yanti

yanti
me n my sister

adex n aq

adex n aq

Mengenai Saya

Foto Saya
cewk yg suka bergaul dgn cowk tp agk manja juga egois dlm segala hal tapi terkadang mw mengalah kq... terkadang seperti kanak-kanak, terkadang bs dewasa jg kq... syg ma kluarga n pny cita2 bwt m'bahagiakan kluarga ku i luv my family^

Pengikut

Rabu, 28 Oktober 2009

Pengaruh sifat fisik kelapa sawit tehadap hasil proses pengolahan dan pemanfaatan sisa hasil pengolahan CPO(crude palm oil)





Pengaruh sifat fisik kelapa sawit terhadap hasil pengolahan CPO

Kelapa sawit (Elaeis guinensis) adalah tumbuhan monokotil dan merupakan bagian dari famili Palmae, subfamili Cocoinae, dan ordo Spadiciflorae. Genus Elaeis berasal dari bahasa Yunani “elaion” yang berarti minyak. Nama spesies guineensis berasal dari nama pulau tempat asalnya yaitu pulau Guinea. Genus Elaies mempunya dua spesies yang lain yang berasal dari benua Amerika yaitu E. oleifera (H.B.K).



Gambar 4.1 Kelapa Sawit

Tidak ada varietas yang spesifik pada tanaman kelapa sawit. Meskipun demikian, tanaman kelapa sawit dapat diklasifikasikan berdasarkan ketebalan dari kulit dan warna buahnya. Berdasarkan tersebut, kelapa sawit dibedakan menjadi 3 bentuk yaitu: kelapa sawit berkulit tebal, berkulit tipis, dan kelapa tak berkulit (berkulit sangat tipis).
Kelapa sawit berkulit tebal misalnya varietas dura yang persentase kulitnya 20 – 40 % atau bahkan lebih tinggi. Ketebalan kulitnya adalah 2 – 8 mm. Proporsi kernelnya (inti) cukup besar yaitu 7 – 20 % sedangkan prosentase mesocarp-nya relatif rendah.
Kelapa sawit berkulit tipis misalnya varietas tenera yang proporsi kulitnya kira-kira 5-20% dan ketebalan kulitnya tipis (0,5 -3,0 mm). Kernel atau inti sawitnya lebih kecil daripada varietas dura yaitu 3-12% dari berat buah.
Kelapa sawit juga bisa diklasifikasikan berdasarkan warna buahnya sebagai berikut :
1. Nigricens. Sebelum masak warnanya merah tua sampai hitam dan merupakan tipe kelapa sawit yang paling umum.
2. Virescen. Sebelum masak berwarna hijau, setelah masak menjadi merah terang. Tipe kelapa sawit ini tidak banyak ditemukan.
3. Albescen. Berwarna hitam saat dewasa dan mengandung sedikit atau tidak mengandung karotenoid. Jenis ini jarang sekali keberadaannya di alam.
Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada daerah iklim tropis dengan curah hujan 2000 mm/tahun dan kisaran suhu 220-320C. Panen kelapa sawit terutama didasarkan pada saat kadar minyak mesocarp mencapai maksimum dan kandungan asam lemak minimum, yaitu pada saat buah mencapai tingkat kematangan tertentu (ripe). Kriteria kematangan yang cepat ini dapat dilihat dari warna kulit buah yang rontok pada saat tandan.
Adapun beberapasifat fisik yang mempengaruhi hasil pengolahan CPO adalah sebagai berikut:

Kriteria Kematangan Kelapa Sawit Berdasarkan Warna Kulit Buah dan Bentuk Buah

Dalam proses pengolahan kelapa sawit, tingkat kematangan buah sangat menentukan
hasil pengolahan yang diperoleh. Berikut kriteria kematangan buah yang baik untuk diolah adalah :

Varietas Warna Kulit Buah (Setelah Masak)
Nigriscens Merah Kehitaman
Varescens Merah terang
Albescens Hitam
Varietas Bentuk Buah
Dura Tidak teratur, tempurung tebal
Delidura Penampang bulat, tempurung tebal
Tenera Penampang bulat, tempurung tipis
Pisifera Penampang bulat, inti kecil

Tipe kelapa sawit
Penangkar seringkali melihat tipe kelapa sawit berdasarkan ketebalan cangkang, yang terdiri dari
Dura,
Pisifera, dan
Tenera.
Ketiga tipe ini juga merupakan factor yang dapat mempengaruhi hasil pengolahan.
Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang tebal sehingga dianggap memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan buahnya besar-besar dan kandungan minyak per tandannya berkisar 18%.
Pisifera buahnya tidak memiliki cangkang namun bunga betinanya steril sehingga sangat jarang menghasilkan buah.
Tenera adalah persilangan antara induk Dura dan jantan Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing-masing induk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa tenera unggul memiliki persentase daging per buahnya mencapai 90% dan kandungan minyak per tandannya dapat mencapai 28%.4

kriteria tahun tanam kelapa sawit
Kelapa sawit sudah mulai mengeluarkan manggar pada umur 3 sampai 4 tahun dan pada umur 8 sampai 11 tahun telah menghasilkan lebih dari 20 ton tandan buah segar (TBS)/Ha/tahun. Pemanenan dilakukan setelah tandan berumur 5-6 bulan. Kelapa sawit dipanen terus sampai pohon berumur 30 tahun, dan pada umur 35 tahun perlu diremajakan.
Kelapa sawit berbuah setelah berumur 2,5 tahun dan buahnya masak 5,5 bulan setelah penyerbukan. Kelapa sawit dapat dipanen jika tanaman berumur 31 bulan, sedikitnya 60 % buah telah matang panen, dari 5 pohon terdapat 1 tandan buah matang panen. Satu tandan beratnya berkisar 10 kg lebih.
Contoh kapasitas produksi kelapa sawit jenis dura:
1. Umur tanaman 4 tahun hasil minyak = 500 kg/ha, hasil inti = 100 kg/ha
2. Umur tanaman 6 tahun hasil minyak = 1.000 kg/ha, hasil inti = 200 kg/ha
3. Umur tanaman 8 tahun hasil minyak = 1.600 kg/ha, hasil inti = 320 kg/ha
4. Umur tanaman 10 tahun hasil minyak= 2000 kg/ha, hasil inti = 400 kg/ha
5. Umur tanaman 12 tahun hasil minyak = 2250 kg/ha, hasil inti = 450 kg/ha.

Pengaruh kadar air, asam lemak dan kotoran
pengertian mutu sawit berdasarkan ukuran. Dalam hal ini syarat mutu diukur berdasarkan spesifikasi standar mutu internasional yang meliputi kadar ALB, air, kotoran, logam besi, logam tembaga, peroksida, dan ukuran pemucatan. Standart eksport yang diizinkan adalah :

ALB : 2,5% – 3 %
Kotoran : 0,02%
Kadar air : 0,15%
Dengan sttandart ini minyak murni yang dihasilkan akan mencapai rendemen 21% sampai 25/%.
Kebutuhan mutu minyak kelapa sawit yang digunakan sebagai bahan baku industri pangan dan non pangan masing.masing berbeda. Oleh karena itu keaslian, kemurnian, kesegaran, maupun aspek higienisnya harus lebih Diperhatikan. Rendahnya mutu minyak kelapa sawit sangat ditentukan oleh banyak faktor. Faktor.faktor tersebut dapat langsung dari sifat induk pohonnya, penanganan pascapanen, atau kesalahan selama pemrosesan dan pengangkutan.
a. Asam lemak bebas
Asam lemak bebas terbentuk dari hasil hidrolisis minyak kelapa sawit. Komponen utama adalah asam palmitic dengan berat molekul 256 yang mewakili berat molekul campuran asam lemak. Faktor yang menyebabkan naiknya ALB :
(a). Pemanenan
Tingkat kematangan dari buah sawit mempengaruhi naiknya ALB. Buah yang terlalu masak sangat mudah sekali memar dan menghasilkan enzyme lipase pembentuk ALB.
(b). Penanganan dan transportasi buah sawit Buah yang memar sejak panen dan selama tranport akan menyebabkan naiknya ALB. Telah terbukti bahwa naiknya ALB karena penanganan yang salah terhadap buah sawit. Stasiun penerimaan buah di pabrik harus dirancang utuk meminimalkan kerusakan buah sawit saat penanganan. Berondolan yang jatuh tergilas dan terpencet khususnya pada lantai penerimaan buah sawit harus dihindari. Buah yang tergilas tidak hanya meningkatkan ALB tetapi akan menimbulkan kerugian minyak pada kondensat sterilizer.
c). Waktu antara saat panen dan proses dipabrik.
Proses sterilisasi adalah untuk menon-aktifkan enzim lipase. Untuk meminimalkan kenaikan ALB, buah sawit harus diproses segera setelah dipanen, lebih baik pada hari yang sama.
b. Kadar air
Zat yang mudah menguap (khususnya uap air) adalah yang akan menguap pada suhu diatas 1000 C. Tingginya kandungan uap air didalam minyak kelapa sawit akan mengakibatkan hidrolisis secara autokatalis pada minyak, yang meningkatkan nilai ALB. Uap air tersebut juga mencegah terjadinya oksidasi.
c. Kadar kotoran dan ketidak murnian
Kotoran didalam minyak kelapa sawit dapat menyebabkan proses hidrolisis didalam minyak karena mengandung besi dan tembaga yang merupakan pro-oksidant. Sering penyebabnya adalah TBS kotor dan juga saat selama proses di pabrik. Sebagaimana mengontrol kadar air, kadar kotoran dapat dikontrol pada tangki clarifier dengan menjaga ketinggian lapisan minyak 25 sampai 30 cm dan dihilangkan oleh mesin purifier.


Pemanfaatan sisa hasil pengolahan CPO

Beberapa produk dari kelapa sawit yang umum diperdagangkan adalah :
a. Minyak Sawit Kasar atau Crude Palm Oil (CPO)
Berupa minyak yang agak kental berwarna kuning jingga kemerah-merahan. CPO mengandung asam lemak bebas (EFA) 5% dan mengandung banyak Carolene atau pro vitamin E (800-900 ppm).
Titik lunak berkisar antara 33-34 °C.

b. Minyak Inti Kelapa Sawit atau Palm Kernel (PKO)
Berupa minyak putih kekuning-kuningan yang diperoleh dari proses ekstraksi inti buah tanaman kelapa sawit. Kandungan asam lemak sekitar 5 %.

c. Inti Kelapa Sawit atau Palm Kernel
Merupakan buah tanaman kelapa sawit yang telah dipisahkan dari daging buah dan tempurungnya serta selanjutnya dikeringkan. Kandungan minyak yang terkandung di dalam inti sekitar 50 % dan kadar FFA-nya sekitar 5 %.

d. Bungkil Inti Kelapa Sawit atau Palm Kernel Cake
Bungkil inti kelapa sawit merupakan daging inti kelapa sawit yang telah diambil minyaknya. Minyak dihasilkan melalui proses pemerasan mekanis atau proses ekstraksi dengan pelarut yang lazim dipergunakan. Bungkil mengandung sekitar 2 % minyak.

e. Pretreated Palm Oil
Pretreated palm oil merupakan minyak yang diperoleh dari proses deguming dan prebleaching untuk persiapan “physical refining” minyak daging buah. Kadar FFA pretreated palm oil sekitar 5 %. Nilai titik lunaknya adalah 33-39 °C.

f. Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBD Palm Oil)
RBD palm oil merupakan minyak kelapa sawit yang telah mengalami proses refinasi lengkap. RBD mengandung FFA 0,15 % yang berwarna kuning kejingga-jinggaan dengan titik lunak antara 30-39 °C. RBD Palm Oil hanya digolongkan dalam satu jenis mutu.

g. Crude Palm Fatty Acid
Adalah asam lemak yang diperoleh sebagai hasil sampingan dari refinasi lengkap CPO dan fraksi-fraksinya, kandungan asam lemak bebasnya mencapai 89 %.

h. Crude Palm Oil
Berupa minyak yang berwarna merah sampai jingga. Minyak ini diperoleh dari fraksinasi CPO dengan kadar FFA 5 %. Nilai titik lunak CPO maksimum 24 °C.

g. Preteated Palm Olein
Adalah minyak yang diperoleh dari proses deguming dan prebleaching untuk persiapan “physical refining” fraksi cair CPO. Pretreated palm olein berwarna merah kekuning-kuningan dan memiliki kadar FFA sebesar 5%. Nilai titik lunaknya adalah 24 °C.

h. RBD Palm Olein
Adalah minyak yang berwarna kekuning-kuningan. RBD palm olein diperoleh dari CPO yang telah mengalami refinasi lengkap. Kadar FFA-nya sekitar 0,15 % dan titik lunak maksimumnya adalah 24 °C.

i. Crude Palm Stearin
Crude palm stearin merupakan lemak berwarna kuning sampai jingga kemerah-merahan yang diperoleh dari proses fraksinasi CPO. Crude palm stearin memiliki kadar FFA sebesar 5 % dan nilai titik lunak sekitar 48 °C.

j. Pretreated Palm Stearin
Pretreated palm stearin adalah lemak yang diperoleh dari proses degumming dan prebleaching untuk persiapan “physical refining” fraksi padat CPO. Pretreated palm stearin memiliki kandungan FFA sebesar 5 % dan nilai titik lunak 48 °C.

k. RDB Palm Stearin
Adalah fraksi lemak yang berasal dari CPO yang telah mengalami refinasi lengkap. RBD palm stearin memiliki kadar FFA sebesar 0,2 %. Nilai titik lunaknya sama dengan Crude Palm Stearin, hanya warnanya lebih kuning.

l. Palm Acid Oil
Palm acid oil adalah asam lemak yang berasal dari CPO yang telah mengalami proses netralisasi dengan soda kaustik dan dilanjutkan dengan proses pengasaman dengan asam sulfat. Palm acid oil memiliki kandungan FFA sebesar 50 % dengan total kadar lemak maksimum 95 %.

m. Crude Palm Kernel Fatty Acid
Crude palm fatty acid adalah asam lemak yang diperoleh sebagai hasil sampingan dari refinasi lengkap minyak inti sawit (PKO) dan fraksi-fraksinya. Kadar FFA-nya minimum 70 %.
Dari beberapa produk yang dihasilkan kelapa sawit diatas yang paling umum diproduksi adalah hasil minyak crude palm oil dan palm kernel oil. Selama dalam proses pengolahan nya,mulai dari tandan buah segar sampai menjadi minyak, ada bagian-bagian kelapa sawit dan sisa hasilnya yang tersisihkan Yaitu:

1. Tandan kosong
2. Cangkang
3. Bungkil inti sawit
4. Ampas
5. Lumpur minyak

Dan sisa hasil ini akan dimanfaatkan menjadi fungsi yang lain sehingaa dapat digunakan dan
tidak terbuang.

pemnafaatan tandan kosong

Secara fisik tandan kosong kelapa sawit terdiri dari berbagai macam serat dengan komposisi antara lain sellulosa sekitar 45.95%; hemisellulosa sekitar 16.49% dan lignin sekitar 22.84% (Darnoko dkk. 2002). Berdasarkan struktur tersebut dapat dibayangkan bahwa sebenarnya tandan kosong kelapa sawit adalah kumpulan jutaan serat organik yang memiliki kemampuan dalam menahan air yang ada di sekitarnya. Secara fisik struktur tersebut akan mengalami proses dekomposisi dan degradasi bahan organik sehingga akan mengalami perubahan struktur menjadi seresah. Seresah juga mempunyai fungsi dan peranan yang sama dengan tandan kosong kosong kelapa sawit yaitu mampu mempertahankan air yang ada di sekitarnya.



Gambar 4.2

Fungsi fisik aplikasi tandan kosong juga merupakan tindakan konservasi air dan tanah. Tindakan konservasi air dan tanah dapat diimplementasikan dengan penempatan tandan kosong pada daerah-daerah dengan topografi bergelombang sampai berbukit, khususnya pada daerah lereng dan punggung bukit. Contoh permasalahan sederhana tandan kosong juga dapat menahan laju kecepatan air dan butir-butir tanah yang hanyut pada proses run-off, sehingga kerusakan tanah akibat erosi dapat diminimalisasi. Khusus pada tanah berpasir, kemampuan tandan kosong dalam menyerap kembali air dan menahan air di antara susunan serat yang menjadi pendukung struktur tandan kosong akan mampu mempertahankan iklim mikro di sekitarnya. Kelembaban tanah yang dipertahankan terutama di sekitar daerah sistem perakaran akan sangat membantu proses pertumbuhan akar. Selain itu juga membantu proses pelarutan nutrisi yang berasal dari pupuk anorganik sehingga dapat tersedia dan diserap oleh tanaman.
Untuk di pabatu, tandan kosong akan digunakan untuk bahan bakar pada ketel uap. Dan sisanya akan dibawa kekebun.

pemanfaatan cangkang dan serat
Fiber dan cangkang umumnya digunakan sebagai bahan bakar boiler. Uap dari boiler dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik dan untuk merebus TBS sebelum diolah di dalam pabrik.

inti sawit
Bungkil inti sawit merupakan hasil samping dari pemerasan daging buah inti sawit. Proses mekanik yang dilakukan dalam proses pengambilan minyak menyebabkan jumlah minyak yang tertinggal relatif cukup banyak (sekitar 7 9 %). Hal ini menyebabkan bungIdl inti sawit cepat tengik akibat oksidasi lemak yang masih tertinggal Kandungan protein baban ini cukup tinggi, yaitu sekitar 12 16%, dengan kandungan serat kasar yang cukup tinggi (36%). Bungkil inti sawit biasanya terkontaminasi dengan pecahan cangkang sawit dengan jumlah sekitarl5 17%. (Anonymous, 2002). Pecahan cangkang ini mempunyai tekstur yang sangat keras dan tajam. Hal im menyebabkan bahan tersebut kurang disukai ternak dan dikhawattrkan dapat merusak dincling saluran pencernaan pada ternak muda.
Penelitian penggunaan bungkil inti sawit dalam ransum sapi perah, sapi potong, domba, dan kambing sudah dilaporkan. Produksi susu sapi peranakan Sahiwal friesian (produksi susu 7,7 kgAiari selarna, masa produksi 200 hari) dengan ransum yang mengandung bungkil inti sawit tidak berbeda nyata dengan produksi susu ransum konvensional (8,4 kg) (Anonymous, 2002). Umumnya pada peternakan sapi perah diberikan ransum konsentrat dengan komposisi bungkil inti sawit 64,5%, jagung 25,0%, bungkil kedelai 8,0%, garam 1,00/o, dan campuran mineral/vitamin.
Penggemukan sapi dapat dilakukan dengan pemberian bungIdl inti sawit tanpa serat dengan pertumbuhan 749 g/h/e (Mustaffa Babjee et al., 1984). Padmowijoto et al. (1988) melakukan penelitian pemberian bungkil inti sawit (21, 35, dan 60 % dalam konsentrat dengan jenis imbangan hijauan masing masing 15/85, 30/70, dan 45/55) pada peranakan Ongole dan peranakan Friesian Holstein. Perbedaan imbangan hijauan dengan bungkil inti sawit ini tidak menyebabkan perbedaan yang nyata terhadap kineria sapi. Kualitas dagmg sapi juga tidak dipengarulu perlakuan ransum.

pemanfaatan ampas
Pengolahan minyak kelapa murni menghasilkan produk samping berupa ampas kelapa. Ampas kelapa yang dihasilkan masih memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi terutama protein. Hal ini menyebabkan ampas kelapa berpotensi untuk diolah menjadi pakan. Salah satu cara yang dapat dipergunakan untuk mengolah ampas kelapa menjadi pakan adalah dengan fermentasi. Proses fermentasi dilakukan dengan menggunakan spora Aspergillus niger. Proses fermentasi dilakukan secara bertahap, yaitu dengan fermentasi aerob kemudian dilanjutkan dengan fermentasi anaerob (proses enzimatis). Hasil analisa menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kadar protein ampas kelapa setelah fermentasi dari 11,35% menjadi 26,09% atau sebesar 130% dan penurunan kadar lemak sebesar 11,39%. Kecernaan bahan kering dan bahan organik meningkat masing-masing dari 78,99% dan 98,19% menjadi 95,1% dan 98,82%. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pakan yang dihasilkan cukup aman untuk ternak, yaitu dengan kandungan aflatoksin < 20 ppb.
Untuk dipabatu, ampas – ampas ini masih mengandung kadar minyak sekitar 24%. Dan dimanfaatkan untuk makanan ternak seperti ayam, dan hewan ternak lainnya. Ampas ini mengandung kadar gizi untuk hewan. Dan untuk menghasilkan bahan makanan yang lebih baik lagi, ampas ini diolah kembali melalui beberapa proses secara kimia agar menghasilkan bahan makanan ternak yang lebih maksimal.


pemanfaatan lumpur

Definisi limbah adalah kotoran atau buangan yang merupakan komponen penyebab pencemaran terdiri dari zat atau bahan yang tidak mempunyai kegunaan lagi bagi masyarakat. Limbah industri kebanyakan menghasilkan limbah yang bersifat cair atau padat yang masih kaya dengan zat organik yang mudah mengalami peruraian. Kebanyakan industri yang ada membuang limbahnya ke perairan terbuka, sehingga dalam wakt yang relatif singkat akan terjadi bau busuk sebagai akibat terjadinya fermentasi limbah. Sebagian pengusaha industri yang akan membuang limbah diwajibkan mengolah terlebih dahulu untuk mencegah pencemaran lingkungan hidup
disekitarnya.
Metode yang digunakan adalah pengolahan limbah secara fisik, kimia dan biologi atau kombinasi untuk mengatasi pencemaran. Limbah cair yang berasal dari industri sangat bervariasi, serta tergantung dari jenis dan besar kecilnya industri. Pada saat ini umumnya industri melakukan pengolahan limbah cair secara kimia yaitu proses koagulasi –flokulasi, sedimentasi dan secara flotasi dengan menggunakan udara terlarut, serta pengolahan limbah cair secara biologi yaitu proses aerob dan proses anaerob. Proses kimia seringkali kurang efektif dikarenakan biaya untuk pembelian bahan kimianya cukup tinggi dan pada umumnya pengolahan air limbah secara kimia akan menghasilkan sludge yang cukup banyak, sehingga industri harus menyediakan prasarana untuk penanganan sludge. Pada pengolahan limbah cair secara flotasi akan menggunakan energi yang cukup banyak. Pada proses pengolahan limbah secara biologi, umumnya menggunakan lahan yang cukup luas dan energy yang banyak dan menjadi pertimbangan bagi industri yang terletak didaerah yang mempunyai lahan sempit. Berdasarkan data diatas, maka untuk meminimisasi masalah tersebut salah satu teknologi yang dapat digunakan pada pengolahan limbah cair adalah teknologi membran.
Penurunan kualitas air dapat disebabkan oleh adanya kandungan bahan organik dan anorganik yang berlebihan. Adanya senyawa organik dalam perairan akan dirombak oleh bakteri dengan menggunakan oksigen terlarut. Perombakan ini akan menjadi masalah jika senyawa organik terdapat dalam jumlah yang banyak Penguraian senyawa organik akan memerlukan oksigen yang sangat, sehingga dapat menurunkan kadar oksigen terlarut perairan samapai titik yang terendah akibat dekomposisi aerobik akan terjadi, sehingga pemecahan selanjutnya akan dilakukan oleh bakteri anaerobik. Pada saat ini pengolahan limbah cair industri kelapa sawit umumnya dilakukan dengan menggunakan metode proses kombinasi, yaitu fisika dan biologi. Metode ini mempunyai kelebihan pengolahannya cukup murah, tetapi kekurangannya adalah lahan yang digunakan untuk pengolahan limbah cair cukup besar, tetapi bagi industri yang mempunyai lahan terbatas karena proses diatas sulit dilakukan untuk membantu industri yang mempunyai keterbatasan lahan, maka kami mencoba untuk menggunakan teknologi membran dalam pengolahan air limbah industri kelapa sawit. Teknik pemisahan dengan membran umumnya berdasarkan ukuran partikel dan berat molekul dengan gaya dorong berupa beda tekan, medan listrik dan beda konsentrasi. Proses pemisahan dengan membran yang memakai gaya dorong berupa beda tekan umumnya dikelompokkan menjadi empat jenis diantaranya mikromembran, ultramembran, nanomembran dan reverse osmosis.
Teknologi membran memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan proses
lain, antara lain :
• Pemisahan dapat dilakukan secara kontinu
• Konsumsi energi umumnya relatif lebih rendah
• Proses membran dapat mudah digabungkan dengan proses pemisahan lainnya
( hybrid processing)
• Pemisahan dapat dilakukan dalam kondisi yang mudah diciptakan
• Mudah dalam scale up
• Tidak perlu adanya bahan tambahan
• Material membrane bervariasi sehingga mudah diadaptasikan pemakaiannya.
Kekurangan teknologi membran antara lain : fluks dan selektifitas karena pada proses membrane umumnya terjadi fenomena fluks berbanding terbalik dengan selektifitas. Semakin tinggi fluks seringkali berakibat menurunnya selektifitas dan sebaliknya. Sedangkan hal yang diinginkan dalam proses berbasiskan membrane adalah mempertinggi fluks dan selektifitas.
Hasil dari proses ini adalah :
1.Pengolahan air limbah menggunakan kombinasi anaerob-membran RO,menghasilkan effluent yang dapat memenuhi baku mutu air limbah, tetapi belum memenuhi standar mutu air minum terutama untuk warna
2. Pengolahan air limbah menggunakan kombinasi anaerob-aerob-membran RO, menghasilkan effluent yang memenuhi persyaratan air minum, tidak berwarna, sehingga dapat direcycle lagi untuk proses produksi.
3. Pengolahan air limbah dengan menggunakan membran keramik menghasilkan effluent yang dapat memenuhi persyaratan mutu air limabh, tetapi belum memenuhi standar mutu air minum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar